Sampan Hias Berisi Rombongan Merapat dan Langsung Disiram Air dalam Suasana Ceria (Dok.Pribadi)
Kalau di zaman modern, untuk
menyambut tamu kehormatan biasanya dengan mobil khusus supermewah. Hal
ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat adat Dayak
Tamambaloh. Leluhur mereka telah menemukan cara terbaik bagaimana
membuat tamu kehormatan merasa kerasan, nyaman, dan merasa diterima
dengan serangkaian acara protokoler yang tidak kalah menarik dan
sebenarnya mempunyai warna dasar yang sama dengan protokoler penyambutan
tamu kehormatan di era modern.
Tahap Akhir Pengecekan Sampan Hias sebelum Ditumpangi Tamu Kehormatan (Dok.Pribadi)
Karena pada zaman dahulu satu-satunya
jalur transportasi adalah Sungai, maka masyarakat Dayak Tamambaloh
menggunakan beberapa sampan yang digandeng dan dihiasi secara khusus
dengan janur kuning dan bendera-bendera adat sebagai kendaraan VVIP
untuk menyambut tamu kehormatan. Sampan ini biasanya didandani secara
bersama-sama sehari sebelum hari penyambutan tamu.
Tamu Kehormatan Didampingi Sepasang Penari dan Kru Musik di Buritan Siap Meluncur (Dok.Pribadi)
Sampan hias ini hanya boleh ditumpangi
oleh tamu dan rombongan yang didampingi oleh sepasang penari dan para
penabuh alat musik. Sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Embaloh menuju
kampung yang dituju, para tamu kehormatan akan disuguhi dengan tarian Mandaria khas Tamambaloh. Para penabuh alat musik dan penari akan terus menabuh dan menari sejak keberangkatan sampai tempat tujuan.
Sampan Hias Mendekat ke Lokasi Pendaratan (Dok.Pribadi)
Biasanya, di tepi pantai sungai di
kampung yang dituju sudah banyak orang kampung yang menanti untuk
menyambut sampan hias yang berisikan para tamu kehormatan. Uniknya,
hampir semua yang menunggu memegang ember, piring, atau apa pun juga
yang bisa digunakan menggayung air sungai. Sebab sampan, bendera adat,
dan semua tamu akan diguyur dengan air sampai basah. Di sini, suasana
kehangatan, keakraban dan kedekatan sebagai sebuah kelurga langsung
terasa di hati para tamu kehormatan. Dengan membiarkan diri dibasahi
berarti mereka diterima sebagai keluarga besar masyarakat adat Dayak
Tamambaloh.
Setelah itu, seluruh rombongan tamu
akan dijemput dengan penerimaan tahap kedua. Di sana, telah berbaris
rombongan penari yang akan mengantar tamu ke tempat penginapan atau
tempat yang dituju. Tetapi sebelumnya para tamu diberi kesempatan
berganti pakaian terlebih dahulu (mengenakan pakaian adat Dayak
Tamambaloh). Acara tahap kedua ini disebut menyialo. Artinya,
para tamu disambut dan diterima secara resmi sebagai orang Tamambaloh.
Para tamu akan disuguhi aneka penganan tradisional khas Tamambaloh dan
Minuman Khas Tamambaloh (Saguer-air sadapan pokok enau) yang disimpan
dalam tanduk kerbau atau sapi dan harus dihabiskan. Baru setelah itu,
akan diantar menuju tempat dilangsungkannya acara yang menjadi intensi
kedatangan tamu kehormatan tersebut.
Sunguhan Penerimaan Telah Menanti Bagi Tamu Undangan (Dok Pribadi)
tamu Harus Minim Saguer dari Tanduk Kebau Ini (Dok.Pribadi)
Semoga budaya ini tetap diteruskan oleh generasi muda karena makna di baliknya luar biasa!
Weekly Photo Challenge: Garis
Sungai Embaloh di Pagi Hari Menjelang Penyambutan Tamu (Dok.Pribadi)

