Siang
itu, seorang ibu setengah baya naik mobil Angkutan Kota (Angkot) balik
dari Tanah Abang ke Kebayoran. Di tengah jalan penumpang satu persatu
turun sesuai tujuan masing-masing. Penumpang yang tersisa tinggal dua
orang, yakni seorang ibu dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar
13 tahun dengan mengenakan seragam SMP. Ibu itu kuatir jika sendirian,
soalnya sudah santer diberitakan banyak kasus perkosaan terjadi di mobil
Angkot.
Namun,
beberapa saat kemudian mobil berhenti, tujuh gadis remaja dengan
pakaian seragam SMA menaiki Angkot. Ibu yang berprofesi sebagai ustazah
itu merasa nyaman karena ada banyak penumpang. Bahkan, kehadiran mereka
menyebabkan suasana yang semula adem-ayem saja berubah menjadi ramai.
Maklum usia remaja sarat canda dan tawa. Seusia mereka tidak peduli
dengan suasana sekitar, yang penting heppy. Mereka tidak menyadari jika
mata liar memandangi sekuntum bunga mawar sedang mekar dan siapapun
ingin memetiknya.
Keasyikan
bersuka ria menyebabkan mereka duduk seenaknya. Tidak memerhatikan
selangkangan mereka yang sedang dipelototin. Celana dalam yang mereka
kenakan terlihat jelas oleh ustadzah dengan beragam motif. Bahkan, ada
yang terlihat tipis sekali sehingga barang terlarang itu mengembang
dibalik kain tipis itu. Ibu itu merasa kiku dan malu karena satu-satunya
lelaki yang ada di angkot itu adalah siswa SMP, jelas sudah paham
mengenai daerah terlarang itu. Bisa dipastikan karena beberapa kali
kepergok mencuri pandang pada areal sempit yang menggoda mata itu.
Ibu
itu hanya bisa mengelus dada dan menenangkan hati. Apalagi, dirinya
kuatir menegur secara langsung karena anak remaja zaman sekarang tidak
takut sama siapapun. Berani menantang, meski sudah tahu dirinya salah.
“Soal salah benar kaga diurus” gitu kata ustazah. Namun, nalar ibu itu
tetap jalan dan cerdas menyikapi suasana di mobil Angkot. Seuntai
tembang kesukaannya dinyanyikan dengan merdu.
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Slalu di puja-puja bangsa
Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Tempat akhir menutup mata
Tiga
kali ibu itu mengulang kalimat Di sana tempat lahir beta Dibuai dan
dibesarkan bunda. Beberapa remaja putri itu, diam membisu seakan
terhipnotis dengan ulah ibu yang melantunkan tembang masa lalu tersebut.
Sebagian remaja itu seakan ada yang faham makna dan tujuan ibu itu
melantunkan tembang itu. Buktinya, mereka kiku dan risih ketika sorot
mata ibu melotot di sela-sela selangkangan mereka. Bahkan, ada sebagian
remaja itu menarik-narik roknya agar bisa menutupi paha, sebagian ada
yang menutup dengan tas sekolah mereka. Sebagian ada juga yang cuek
mungkin tidak paham dengan teguran halus dari ustazah.
Sumber:hiburan.kompasiana.com/humor/2012/05/30/nyanyian-seorang-ustadzah-di-mobil-angkot/

