Hukum Mandi.
Bagi orang yang akan melakukan shalat, tidak sah sholatnya jika masih mempunyai hadast besar.
Hadast besar adalah hadast yang disebabkan oleh Bersetubuh, Keluarmani, haid, nifas, dan melahirkan. Hadast besar dapat dihilangkan dengan mandi junub / janabat / mandi wajib / mandi hadast besar. Hukum mandi besar adalah wajib.
Sebab – sebab yang mewajibkan mandi Junub…….
Sebab – sebab yang mewajibkan mandi Junub adalah:
- Bersetubuh (walaupun tidak keluar air mani)
- Keluar air mani (baik karena bersetubuh maupun karena mimpi atau sebab lainnya)
- Mati yang bukan Syahid (Orang mati syahid tidak wajib dimandikan)
- Selesai haid (menstruasi)
- Selesai Nifas
- Wiladah (melahirkan).
- keluarnya dari Kubul dengan memancar (tersendat-sendat).
- Saat keluar terasa Nikmat.
- Baunya: a. Jika masih basah seperti bau adonan roti atau bau mayang korma. b. Jika sudah kering seperti bau putih telur.
Di artikel lalu, aku telah tuliskan alasan/penyebab kita mesti mandi wajib/mandi besar/mandi junub/mandi janabah. Kini, aku akan tuliskan tata cara mandi besar.
Ada beberapa riwayat/cara untuk melakukan mandi junub ini.
1. Riwayat Maimunah r.a.,
ثلاثا، ثم أفرغ بيمينه على شماله، فغسل مذاكيره، ثم دلك يده بالأرض، ثم مضمض واستنشق، ثم غسل وجهه ويديه، وغسل رأسه ثلاثا، ثم أفرغ على جسده، ثم تنحى من مقامه، فغسل قدميه.
Dari Ibn 'Abbas RA, beliau berkata: Maimunah RA berkata: "Aku meletakkan air untuk Rasulullah SAW mandi wajib. Baginda SAW menyiram kedua tangannya dan membasuh kedua tangannya dua atau tiga kali. Seterusnya Baginda SAW menyiram air dengan tangan kanannya ke tangan kirinya dan membasuh kemaluannya (dengan menggunakan tangan kiri). Selepas itu, Baginda SAW menyapu tangannya ke tanah, kemudian Baginda SAW memasukkaan air ke dalam hidung dan mulut kemudian mengeluarkannya. Seterusnya Baginda SAW membasuh mukanya dan kedua tangannya dan membasuh kepalanya tiga kali. Selepas itu Baginda SAW menyiram air ke atas tubuhnya, kemudian baginda saw berpindah dari tempat tersebut dan mencuci kedua kakinya." (al-Bukhari)
Di dalam Sahih Muslim (317) disebutkan pula:
ثم أتيته بالمنديل فرده
Kemudian aku (Maimunah RA) memberikan kepada Baginda SAW sapu tangan, lalu Baginda SAW menolaknya.
Ringkasan cara mandi wajib berdasarkan dalil-dalil di atas ialah:
1) Niat.
Ini berdasarkan hadis yang popular bahawa setiap amal mestilah dengan niat.
Niat ini dibaca dalam hati pada saat mulai membasuh bagian manapun dari tubuh.Lafadz Niat Mandi Besar adalah:
Artinya:
“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadats besar fardhu karena Allah Taala.”
2) Membaca 'Bismillah'.
3) Mencuci tangan sebanyak tiga kali.
4) Mencuci kemaluan dengan tangan kiri
5) Menggosokkan tangan kiri ke tanah lalu lalu mencucinya.
Boleh juga mencuci tangan kiri itu dengan sabun.
6) Berwudhu. Wudhu boleh dilakukan seperti wudhu untuk solat (Sohih Muslim:317) ataupun menangguhkan mencuci kaki selepas selesai mandi.
7) Menyela-nyela rambut secara merata lalu menyiramnya 3 kali dengan air sepenuh dua telapak tangan.
Ini berdasarkan hadis dari Aisyah di dalam sahih al-Bukhari:
2. Riwayat Aisyah r.a
Hadits di atas diambil dari Shahih Bukhari di kitab mandi.
Aisyah di dalam sahih al-Bukhari:
ثم يدخل أصابعه في الماء، فيخلل بها أصول شعره، ثم يصب على رأسه ثلاث غرف بيديه
"Kemudian Baginda SAW memasukkan jari-jarinya ke dalam air, kemudian menyela-nyela rambutnya, kemudia menyiram kepalanya 3 kali dengan kedua tangannya." Ketika menyiram kepala hendaklah dimulai dengan bahagian kanan, kemudian, bahagian kiri dan seterusnya bahagian tengah kepala. Ini berdasarkan hadis 'Aisyah RA di dalam sahih Muslim (318) :
. بدأ بشق رأسه الأيمن. ثم الأيسر
Baginda SAW menyiram kepalanya di bahagian kanan, kemudia bahagian kiri. Bagi wanita yang dalam keadaan junub, diblehkan untuk tidak melepaskan ikatan rambutnya. Ini berdasarkan hadis Ummu Salamah RA.
عن أم سلمة، قالت: قلت: يا رسول الله! إني امرأة أشد ضفر رأسي. فأنقضه لغسل الجنابة؟ قال "لا. إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات. ثم تفيضين عليك الماء فتطهرين
Dari Ummu Salamah RA, beliau berkata: Aku berkata kepada Rasulullah SAW:
"Wahai Rasulullah SAW ، sesungguhnya aku perempuan yang suka mengikat rambutku. Perlukah aku membuka ikatan tersebut ketika mandi junub? Jawab Rasulullah SAW: " Tidak, cukuplah bagi kamu dengan dengan menyiramkan air ke atas kepala kamu sebanyak 3 kali dan meratakan air ke seluruh tubuh kamu, dan kamu sudah dikira sudah bersuci. (Sahih Muslim:330)
Akan tetapi jika mandi untuk haidh, maka dianjurkan untuk melepaskan ikatan rambut. Ini berdasarkan hadis 'Aisyah ra di dalam sahih al-Bukhari di mana beliau kedatangan haidh ketika menunaikan haji. Lalu baginda saw berkata sedemikian:
دعي عمرتك، وانقضي رأسك، وامتشطي
"Tinggalkanlah umrahmu, lepaskanlah ikatan rambutmu ( ketika mandi) dan sisirlah rambutmu"
8) Memulakan dengan bahagian kanan tubuh.
عن عائشة؛ قالت: إن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يحب التيمن في شأنه كله. في نعليه، وترجله، وطهوره
Dari 'Aisyah RA: Sesungguhnya Rasulullah SAW suka mendahulukan bahagian kanan pada semua urusannya, ketika memakai kasutr, ketika bersikat dan ketika bersuci. (Sahih Muslim: 268)
9) Meratakan air ke seluruh tubuh. Kita mestilah semua lipatan tubuh seperti ketiak dan lain-lain. Ini berdasarkan hadis 'Aisyah ( Sunan Abi Daud:243 , di nilai sahih oleh al-Albani)
10) Beralih dari tempat mandi dan membasuh kaki.
Wallahu'alam.
Hadits di atas diambil dari Shahih Bukhari di kitab mandi.
Jadi, secara garis besar, berdasar kedua riwayat di atas, urutan mandi besar adalah:
Membasuh kedua tangan,- Membasuh kemaluan dengan tangan kiri (tangan kanan mengguyur air ke bagian kemaluan),
- (Optional) Menggosok-gosokkan tangannya ke tanah,
- Berwudhu seperti biasa,
- Membasuh kepala (hingga basah merata di kepala), dan
- sambung menyambung dalam membasuh anggota badan.(Muwalat).
Untuk perempuan yang berambut panjang dan ikal/lebat, poin (5) akan dirasa menyulitkan karena akan membuat rambut mereka susah kering. Bahkan untuk beberapa perempuan, rambut yg basah akan membuat mereka sakit kepala. Lantas bagaimana solusinya? Ternyata Rasululloh SAW memberi keringanan, dengan cara mengikat rambutnya lalu mencucurkan air di atas kepalanya tiga kali, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut, “Kata Ummi Salam r.a., saya pernah bertanya kepada Rasululloh SAW: “Ya Rasululloh, saya wanita yang berambut panjang dan lebat, apakah saya harus membuka ikatan rambut saya? Nabi SAW menjawab: “Tidak perlu, cucurkan tiga gayung air pada kepalamu, itu sudah cukup.” (H.R. Muslim)
Lalu, siapa yg mesti saya ikuti? Aisyah r.a atau Maimunah r.a? Tidak perlu saling menyalahkan, ikuti saja salah satu, yang membuat anda mantap. Insya ALLOH keduanya benar, karena didasari hadits yg shahih.
Sunat Mandi ada 5, yaitu:
1. Membaca Basmalah (“Bismillahir rahmaanir rahiim pada saat akan mulai mandi “ ).
2. Berwudhu (sebelum mandi) seperti wudhu hendak sholat.
3. Membasuh (menggosok) badan dengan tangan sampai 3 kali.
4. Mendahulukan yang kanan dari pada yang kiri.
5. Muwalat, yaitu sambung menyambung dalam membasuh anggota badan.
MANDI SUNAT
Selain mandi wajib, ada beberapa mandi yang disunatkan, yaitu:
Mandi ketika hendak Sholat Jumat.- Mandi ketika hendak Sholat Idul Fitri.
- Mandi ketika hendak Sholat Idul Adha.
- Mandi setelah sembuh dari penyakit gila.
- Mandi ketika hendak melaksanakan ihram haji atau umrah.
- Mandi setelah memandikan mayat.
- Mandi seorang kafir setelah masuk islam.
Larangan bagi orang yang mempunyai Hadast Besar:
A. Larangan bagi orang yang sedang Junub:
- Mendirikan Sholat, baik shalat wajib / sunat.
- Mengerjakan Thawaf (Thawaf rukun haji / sunat).
- Menyentuh / membawa Al-quran.
- Berhenti lama (berdiam di masjid) / Itikaf.
B. Larangan bagi orang yang sedang Haid / Nifas:
- Semua larangan point2 diatas.
- Di cerai (ditalaq)
- Berpuasa (wajib / sunat)
- Bersetubuh
- Bersenang – senang antara pusar perut dan lutut.
- Menyeberangi mesjid jika khawatir mengotorinya dengan darah
Semoga artikel ini bermanfaat.



