Kendati
KPUD belum mengeluarkan daftar verifikasi resmi nama-nama yang berhak
maju dalam Pilkada (Gubernur-Wakil Gubernur) DKI Jakarta, namun enam
pasang calon yang sudah mendaftar keburu jual janji dan tebar pesona ke
sana-sini. Ada yang mulai dengan curi start "kampanye" di media massa,
ada yang diam-diam pasang baliho mengepung kota, ada yang naik angkot
dan kasih ceramah di kampus-kampus, macam-macam.Isu bakal mampu mengurai banjir dan kemacetan Jakarta, yang kedengaran 'basi' dan nyaris mustahil –secara dari zaman Ali Sadikin sampai Fauzi Bowo (incumbent yang ngotot maju lagi setelah melepas jargon "Serahkan pada Ahlinya") kedua soal pelik ini tak kunjung bisa usai –tetap saja jadi jualan utama yang mereka gadang-gadang.
Pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono (yang didukung Partai Golkar, PPP, dan sejumlah Partai Non Parlemen), misalnya, berani-beraninya bilang bisa mengatasi kemacetan, banjir dan keamanan di Jakarta dalam waktu tiga tahun. Bahkan, belum-belum mereka "mengancam": Kalau gagal, bersedia mundur!
Keblinger-nya lagi, Alex-Nono juga siap membebaskan biaya berobat dan biaya sekolah murid-murid SD sampai SMA. Dahsyat, kan?
Pun pasangan Hidayat Nurwahid-Didik J Rachbini (cagub lainnya yang dijagokan PKS dan PAN) sudah melontarkan visi-misi siap "Melanjutkan Keunggulan Jakarta serta Mengatasi Masalah Kemacetan, Banjir, dan Transportasi".
Namun, tak semua calon memilih cara blak-blakan, memang. Faisal Basri-Biem Benyamin, yang muncul lewat jalur independen, hanya menyampaikan program kerja bakal "Merawat Jakarta dengan Pendekatan Berdaya Bareng-bareng". Entah apa maksudnya.
Hendardji Supandji-Achmad Riza Patria –juga dari jalur independen– berancang-ancang melakukan "Gerakan Perubahan Total Kondisi Jakarta dengan Melakukan Peremajaan Kota". Entah apa pula maksudnya.
Sementara Joko Widodo, alias Jokowi (Walikota Solo yang "fenomenal" itu) bersama pasangannya, Basuki Tjahaja Purnama, alias Koh Ahok, di banyak tempat berjanji "Melakukan Perubahan/Terobosan/Tindakan-tindakan Lapangan yang Nyata". Meski juga tak jelas benar apa maksudnya, namun PDIP dan Partai GERINDRA sejak awal berada di belakang mereka.
Yang paling "abu-abu" justru pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (jagoan dari Partai Demokrat, PAN, PKB, Hanura, PBB, PDS, PKDI, dan PKNU) yang bertekad "Fokus Bekerja Menata Jakarta". Sampai-sampai ada pengamat bilang, "Boleh jadi tekad ini digagas Bang Foke karena ia sadar betul sudah terlanjur mengacak-acak Jakarta saat menjadi gubernur kemarin, hehe...."
Tebar pesona dan jual janji –selama lidah tak bertulang, seperti kata lagu lawas– memang kagak dose. Tapi, kasihan kan kalau warga Jakarta yang sudah terlalu lama bosan dengan macet dan banjir cuma dikasih janji-janji doang.
Coba kita lihat, mempan apa kagak tuh janji-janji....
|
"Tidak akan ada yang bisa (mengatasi banjir dan macet -Red), karena Jakarta sudah kebanyakan penduduk. "Untuk mengatasi banjir, pemukiman penduduk liar sepanjang bantaran kali harus dibebaskan, normalisasi kali (pengerukan dan pelebaran -Red), menjaga kebersihan (jangan buang sampah sembarangan -Red), dan saluran alternatif kali menuju muara diperlancar. Untuk mengatasi macet, batasi jumlah kendaraan. "Syarat mendasar sih standar saja, tapi mungkin gubernur yang baru mesti punya kepekaan akan kebutuhan warga; termasuk mengatasi masalah klasik seperti sampah, pemukiman bantaran kali, banjir, macet, pendatang baru, dan penyakit masyarakat: gelandangan dan pengemis." |
|
"Kalau menuntaskan masalah banjir dan kemacetan di Jakarta untuk kurun waktu lima tahun, kayaknya tidak mungkin deh. Untuk banjir saja sudah dari berapa tahun lalu gak selesai-selesai. Malah yang ada justru bikin masalah baru. "Rakyat itu butuh aksi, bukan janji. Makanya, kalau ditanya siapa yang paling tepat memimpin Jakarta, bingung saya. Harus yang tegas, tapi bukan menindas. "Kalau bisa sih yang kayak Ali Sadikin, walaupun saya tidak pernah mengalami masa kepemimpinannya. Tapi, menurut orang tua, dulu, di masa Ali Sadikin itu, Jakarta cukup tertata dengan baik. "Dan, satu lagi, yang gak pake politik uang. Saran untuk rakyat, kalau ketemu cagub yang menggunakan politik uang, ambil uangnya, jangan pilih orangnya! "Salah satu penyebab macet adalah rusaknya infrastruktur jalan, terus penempatan jembatan penyeberangan yang tidak tepat. Orang sembarangan menyeberang jalan. Juga penyempitan badan jalan karena terpakai oleh jalur busway. Plus kurangnya petugas kepolisian untuk mengatur lalu-lintas. Jadi kendaraan umum, seperti angkot, sembarangan berhenti di jalan." |
|
"Saya hanya menginginkan gubernur yang didukung oleh rakyat banyak. Dia harus bisa mengusahakan potensi yang ada di Jakarta untuk kesejahteraan penduduk Jakarta. Harus punya nyali untuk tegas, menjalani roda pemerintahan, berani berjanji siap mundur kalau tidak dapat membuktikan janji-janji waktu kampanye. "Pasangan mana yang pantas ditunjuk, belum dapat dijawab, karena kita tidak mengenal mereka secara dalam. Tapi, yang pasti, calon Gubernur DKI Jakarta harus dapat menyelesaikan tugas yang sangat mendesak. Antara lain:
"Sebetulnya sebagian besar rakyat terus bermimpi akan ada perubahan-perubahan nyata, dan bukan janji, yang bisa dirasakan dalam waktu dekat. Paling lama, ya, dua tahun." |
|
"Kalau saya menjagokan Faisal Basri-Biem Benyamin. Karena, menurut saya, mereka masih fresh, dan berasal dari jalur independen, sehingga tidak ada deal-deal politik dengan partai politik. "Saya menganggap, tujuan keenam cagub tersebut untuk maju semata-mata hanya karena tergiur dengan posisi (kekuasaan –Red) dan harta saja. Apalagi kebanyakan mereka dicalonkan melalui partai-partai, yang nantinya akan meminta imbalan ketika sudah naik di kursi jabatan. "Sebenarnya Jakarta bisa terbebas dari macet dan banjir. Caranya dengan menjalankan peraturan/regulasi ketat pembelian kendaraan bermotor untuk atasi kemacetan. "Sedangkan untuk mengatasi banjir, perbanyak waduk dan penertiban pembangunan prasarana dan sarana lahan yang disalahgunakan peruntukannya yang mestinya buat lahan hijau dan penyerapan air. "Saya melihat kepemimpin Fauzi Bowo kemarin tidak membawa perubahan yang berarti. Dia kurang tegas menjalankan peraturan, sehingga pembangunan dan penataan kota cenderung menjadi lamban." |
|
"Insya Allah banjir dan macet bisa taratasi di Jakarta, asalkan gubernurnya jangan 'geblek' kayak kemarin. "Sebenarnya jika ingin menghilangkan macet, Pemerintah harus segera merampungkan Banjir Kanal Timur, serta menambah daerah-daerah hijau yang bisa menjadi daerah resapan air. Jangan digusur dan dibuat gedung bertingkat. "Kalau disuruh pilih dari keenam calon gubernur yang ada, saya tutup mata tutup telinga aja. Karena susah cari orang atau pemimpin yang benar-benar mengerti seluk-beluk permasalahan Jakarta." |
|
"Banjir itu musibah. Daerah Jakarta kan dataran rendah. "Mengenai macet, itu karena pertumbuhan kendaran meningkat. Tapi, persoalan Jakarta memang sulit ditangani. Yang rasional mungkin hanya meminimalkan. "Niat mereka jadi Cagub DKI tidak sepenuhnya murni. Pasti ada sesuatu di balik itu. Tapi, saya jagokan Fauzi Bowo... lanjutkan! Karena Bang Foke-lah yang tahu Jakarta lima tahun sebelumnya. "Untuk mengatasi banjir, harus ditumbuhkan kesadaran dari masyarakat Jakarta. Selain itu harus dilakukan pembuatan gorong-gorong, pembuatan banjir kanal. Tapi, intinya, kesadaran masyarakat itu sendiri agar tidak buang sampah sembarangan. "Untuk mengatasi macet, harus diciptakan pemerataan lapangan kerja, dan tidak hanya di Jakarta saja. Selain itu, menekan harga kendaraan. Contoh, sepeda motor harus dibeli dengan cash, atau kredit minimal di atas Rp 1 juta. Juga meningkatkan layanan angkutan umum." |
|
"Saya tidak yakin berbagai masalah di Jakarta bisa diatasi Gubernur DKI mendatang. "Masalah banjir tidak dapat diselesaikan dalam jangka lima tahun, apalagi tiga tahun –selama masih ada masyarakat yang buang sampah di kali dan tinggal di bantaran kali, serta saluran-saluran air/got di Jakarta yang tidak berujung, alias hanya dibuat saja tanpa mengindahkan di mana ujung pembuangannya. "Masalah kemacetan juga tidak bisa secepat itu diselesaikan. Jika hanya menambah jalan tol atau melebarkan jalan untuk mengurangi kemacetan, tetap tidak akan terselesaikan jika fasilitas angkutan moda transportasi umum tidak diperbaiki dan pembatasan jumlah pemakaian kendaraan pribadi tidak dilakukan. "Masalah pemilihan cagub ini kan hanya sebagai ajang politik semata dan menarik massa selama kampaye. Karena janji calon pemimpin hanyalah janji yang terucap di depan, namun alot untuk direalisasikan jika sudah terpilih. "Saya tidak punya ide yang orisinil, namun untuk mengatasi kemacetan bisa mengikuti cara Singapura, di mana semua moda transportasi difasilitasi dan pajak untuk kepemilikan kendaraan pribadi dimahalkan. "Sebenarnya masalah banjir sudah ada sejak zaman dulu. Namun, untuk mengurangi banjir yang ada bisa dilakukan pembersihan kali atau bantaran kali dari sampah dan penduduk yang tinggal di sana. "Menurut saya, pasangan Jokowi dan Basuki cocok jadi Gubernur DKI, karena mereka bisa menilai apa yang dibutuhkan rakyat Jakarta sekarang ini. Apalagi Jokowi sudah berpengalamann sebagai walikota Solo yang bisa menyuarakan aspirasi rakyat. "Tapi, sebetulnya kinerja Bang Foke sudah bagus. Hanya saja masalah yang sudah turun-temurun itu: kemacetan dan banjir; masih membutuhkan proses yang lama." |
|
"Cukup simpel jawaban saya: Tidak ada cagub yang mampu karena rumitnya kondisi Jakarta! "Umpamanya masalah banjir. Oke, katanya mau dilebarkan daerah aliran sungai, tapi orang-orangnya mau ditaruh di mana? Katanya akan dibangun rumah susun, lalu mereka semua mau beli pake apa? "Kemudian masalah kemacetan. Katanya mau dibangun jalur busway, yang ada malah didemo sama sopir angkot. Apalagi produksi kendaraan berjalan terus, tapi jumlah ruas jalan tidak bertambah. Terus mau jalan di mana tuh kendaraan bermotor? "Jadi, untuk mengatasi banjir, lakukan pengerukan kali-kali yang sudah dangkal tanpa harus mengorbankan orang-orang kecil. Jika memang harus digusur, berikanlah rumah susun dengan harga murah. Saluran-saluran airnya ditambah lagi, dan saluran yang sudah ada dikeruk lagi sampah-sampahnya agar lancar disaat musim hujan. "Untuk kemacetan, ditambah lagi ruas jalannya dan dikurangi jumlah persimpangan jalan dengan pembuatan fly over/under pass. Transpotasi massal diperbagus, dan jangan lupa keamanannya diutamakan, agar para pengguna angkutan tertarik untuk beralih dari kendaraan pribadi kepada angkutan umum. "Mungkin syaratnya untuk menjadi gubernur DKI bisa atasi masalah macet, banjir, sekolah gratis, rumah sakit jangan mempersulit SKTM, stop pembangunan mini market agar pedagang tradisional tidak tergusur, stop membangun mal, bangun waduk-waduk dan ruang terbuka yang hijau, car free day ditambah lagi.... "Tapi, bedalah Jakarta sama Solo atau Palembang yang hanya sedikit permasalahannya. Jakarta kan bergunung-gunung masalahnya; apalagi PUNGLI DIMANA-MANA! "Jadi, maaf yah, tidak ada cagub yang saya jagokan. Karena, kalaupun saya memilih, belum tentu nasib saya berubah. Sejak dahulu, sejak zaman orang tua saya, Jakarta tidak ada perubahan yang signifikan. Malah tambah ruwet aja. "Jadi, saya tidak akan memilih, meskipun nama saya dan istri saya ada dalam daftar pemilih." |
|
"Memang menarik mengikuti perkembangan pemilihan calon Gubernur DKI, karena Jakarta sekarang sudah berkembang jadi kota yang sangat tidak efisien. Banjir dan macet jadi isu yang paling penting. "Tapi, siapapun yang akan menjadi Gubernur DKI, harusnya memikirkan juga tentang pariwisata, atau bagaimana strategi mempromosikan DKI. Banjir dan macet itu kan bagian dari pariwisata. Kalau banjir dan macet terus, pasti bikin gak nyaman, dan akhirnya turis juga malas buat datang. "Saya percaya ini semua bisa dibenahi, asalkan didukung oleh semua orang. Jangan semua menyalahkan pemimpin. "Menurut saya, strategi yang kira-kira bisa pas untuk mengatasi kemacetan adalah:
|
Laporan: Nopiyanti, Safari, Novriyadi


